Sports

Sakral! Tradisi Jamasan Tumbak Kanjeng Kyai Upas Tulungagung, Pusaka Yang Pernah Dipakai Bung Tomo

Investigasi Fakta
Jumat, 03 Juli 2026, 18:58 WIB Last Updated 2026-07-03T11:58:35Z

TULUNGAGUNG - Suasana sakral menyelimuti halaman Griyo Dalem Kanjengan yang menjadi satu area dengan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Jumat 3 Juli 2026. Hari dimana tradisi tahunan jamasan atau pemandian Pusaka Tulungagung, Tumbak Kanjeng Kyai Upas kembali digelar. 


Pelaksanaan yang bertepatan dengan Jumat Legi pekan kedua bulan Suro penanggalan jawa atau Muharram dalam penanggalan islam ini menjadi agenda rutin dan selalu ditunggu masyarakat Tulungagung setiap tahunnya.


Kanjeng Kyai Upas bukan pusaka biasa. Bagi warga Tulungagung, pusaka berbentuk tombak ini mempunyai nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi. Di masyarakat, pusaka Kiyai Upas juga diyakini memiliki kekuatan spiritual sekaligus disakralkan bagi sebagian masyarakat sebagai simbol perlindungan dan pembawa berkah bagi daerah.


Terdapat satu kisah yang menarik dan melekat pada pusaka Kiyai Upas. Konon, tombak tersebut pernah digunakan Bung Tomo dalam perjuangan ketika melawan penjajah di Surabaya. 


Selain itu juga adanya keunikan lain pada bilahnya. Dimana memiliki panjang 35 cm serta di permukaannya terpahat lafadz “Allah” dan “Muhammad”. Yang membuatnya berbeda, pusaka ini dibuat menggunakan emas murni.


Prosesi jamasan tahun ini dilakukan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Warga juga memanjatkan doa agar Tulungagung dijauhkan dari musibah dan bencana.


Rangkaian acara diisi dengan pembacaan Surat Yasin dan tahlil sebagai tanda bahwa tidak ada kekuatan apapun di dunia kecuali hanya atas Kuasa dari Sang Pencipta Allahu SWT. Suasana pun berlangsung khidmat dan penuh haru.


Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, menjelaskan tradisi ini sudah ada sejak zaman Raden Mas Pringga Kusuma, seseorang yang dalam cerita sejarah adalah orang yang membawa Pusaka Kanjeng Kyai Upas ke Tulungagung. 


“Pusaka ini merupakan simbol penguatan mental para pejabat, mulai era Raden Mas Pringga Kusuma hingga pemimpin Tulungagung saat ini. Semoga keberadaannya terus membawa keberkahan bagi daerah,” kata Ahmad Baharudin.


Lebih lanjut, Baharudin menambahkan, terdapat cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Dimana, sebelum pusaka Kiyai Upas datang, Tulungagung sering dilanda banjir. Setelah Kanjeng Kyai Upas berada di daerah ini, banjir disebut mulai surut.


Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung, Moh. Ardian Candra, menyebut jamasan adalah bentuk penghormatan kepada leluhur. Sekaligus upaya menjaga warisan budaya agar tidak hilang.


“Pusaka Kyai Upas tidak bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya Tulungagung. Melalui tradisi ini, kami berharap masyarakat semakin mencintai, menjaga, dan melestarikan peninggalan budaya yang dimiliki daerah khususnya Tulungagung,” terangnya.


Selain dihadiri Plt Bupati, prosesi jamasan pusaka Kiyai Upas juga dihadiri Ketua DPRD Tulungagung Marsono, Pj. Sekda Tulungagung Tri Hariadi, Kapolres, Kajari, Dandim 0807, Kepala OPD serta seluruh pimpinan kecamatan se-Kabupaten Tulungagung. Tidak ketinggalan, ratusan warga masyarakat juga ikut menghadiri jamasan.


Kehadiran masyarakat membuat prosesi semakin khidmat sekaligus semarak. Tradisi jamasan Kanjeng Kyai Upas memang sudah menjadi bagian dari identitas budaya Tulungagung yang harus terus dijaga. 


Jangan sampai budaya yang telah menjadi warisan sejarah hilang tanpa jejak sehingga generasi muda sebagai penerus menjadi tidak memahami bagaimana Tulungagung sejatinya memiliki cerita yang unik sekaligus penuh makna. 


(Malik Hasim)

Komentar

Tampilkan