Kabupaten Bangkalan – Dalam tradisi Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan Madura, terdapat perayaan yang tak kalah penting setelah Idul Fitri. Tepat satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri, masyarakat merayakan Lebaran Ketupat. Tradisi ini telah mengakar kuat dan diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga menarik untuk dikaji lebih dalam. Mengapa Lebaran Ketupat dirayakan? Apa makna filosofis yang terkandung di dalamnya?
Sejarah Lebaran Ketupat diyakini bermula pada masa dakwah Sunan Kalijaga di Pulau Jawa. Tradisi ini berkaitan dengan anjuran menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana disebutkan dalam hadis:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”
Melalui pendekatan budaya, Sunan Kalijaga menghidupkan sunnah tersebut dengan tradisi yang mudah diterima masyarakat. Inilah yang kemudian dikenal sebagai bentuk nyata dari “living hadis” dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Istilah ketupat, atau “kupat” dalam bahasa Jawa, merupakan singkatan dari “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Selain itu, terdapat pula makna “laku papat”, yakni empat tindakan utama dalam kehidupan.
Nilai “ngaku lepat” diwujudkan melalui tradisi sungkeman, di mana seorang anak memohon maaf kepada orang tua sebagai bentuk bakti dan penghormatan.
Secara bentuk, ketupat memiliki filosofi tersendiri:
Ketupat segi empat melambangkan konsep kiblat papat lima pancer, yang bermakna bahwa ke mana pun manusia melangkah, pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Konsep ini juga menggambarkan empat jenis nafsu manusia: amarah, lawwamah (lapar), supiyah (keindahan), dan mutmainnah. Keempat nafsu tersebut dilatih dan dikendalikan selama ibadah puasa di bulan Ramadan.
Mengonsumsi ketupat menjadi simbol keberhasilan dalam menaklukkan hawa nafsu tersebut.
Ketupat segi lima memiliki makna “barang limo ora kena ucul” (lima perkara yang tidak boleh ditinggalkan), yaitu salat lima waktu.
Selain itu, hidangan pendamping seperti kerupuk dalam tradisi ketupat melambangkan “ketumpuk-tumpuk” atau tumpukan kesalahan di masa lalu. Oleh karena itu, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk saling memaafkan dan membersihkan diri secara lahir dan batin.
Lebaran Ketupat menjadi penegas bahwa semangat Idul Fitri tidak berhenti pada hari raya semata. Meski Idul Fitri telah berlalu, umat Islam diingatkan untuk terus menjaga kesucian diri, memperbanyak ibadah, serta memaksimalkan keberkahan yang masih tersisa di bulan Syawal.
(Sang Humonis)



.jpg)
