Kepada wartawan Abdul Rahim menjelaskan Desa Aek Pining yang berada tidak jauh dari Desa Garoga, Huta Godang, Batu Hula, hingga perbatasan Aek Ngadol, menjadi titik konsolidasi aspirasi masyarakat, katanya pada Selasa (24/2/2026).
Hampir dua jam dialog berlangsung terbuka, suasana persoalan mendasar membutuhkan solusi dari pemerintah.
Abdul Rahim mengungkapkan masyarakat mengharapkan.
1. Akses Obat dan Pelayanan Kesehatan
Jangan Lagi Bebani Rakyat, salah satu aspirasi utama yang mencuat adalah persoalan pengadaan obat di Puskesmas.
Warga mengeluhkan mereka membeli obat ke salah satu apotek di Padangsidimpuan, jarak yang cukup jauh, biaya transportasi menjadi beban tambahan bagi masyarakat, khususnya keluarga kurang mampu dan para Lansia.
Menurut mereka dari salah satu warga mengatakan.
“Kami ini kalau sakit, bukan hanya bayar obat, tapi bayar ongkos juga. Kadang ongkosnya lebih mahal dari obatnya,” ungkap seorang ibu dalam forum tersebut.
Masyarakat meminta agar pengadaan obat dapat difasilitasi langsung di Batang Toru, pelayanan kesehatan menjadi lebih efektif, efisien, dan berkeadilan.
Mereka berharap pemerintah kabupaten melalui dinas terkait dapat melakukan evaluasi sistem distribusi obat, memperkuat ketersediaan stok di puskesmas, serta memastikan tidak ada lagi praktik yang memberatkan warga.
Menanggapi hal ini, Abdul Rahim menegaskan bahwa layanan kesehatan adalah hak dasar masyarakat. Ia berkomitmen menyampaikan persoalan ini kepada Bupati Tapanuli Selatan agar segera ditindaklanjuti melalui kebijakan yang berpihak pada rakyat.
2. Krisis Air Bersih Mendesak
Pembangunan SPAM dan Intervensi PDAM
Persoalan paling krusial yang disuarakan warga adalah krisis air bersih. Hingga saat ini, Aek Pining masih mengalami kekurangan air, terutama saat musim kemarau.
Warga meminta DPRD Sumut mendorong sinergi antara Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dengan PDAM Tirtanadi untuk menghadirkan solusi nyata, termasuk pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Mereka berharap ada jaringan perpipaan yang mampu menjangkau desa-desa terdampak, sehingga kebutuhan air bersih dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
“Air ini kebutuhan pokok. Tanpa air, semua terganggu ibadah, kesehatan, ekonomi,” tegas salah satu tokoh masyarakat.
Abdul Rahim menyatakan bahwa isu air bersih akan menjadi prioritas utama. Ia berjanji segera berkoordinasi langsung dengan Bupati Tapanuli Selatan, Direktur Utama PDAM Tirtanadi, serta Kepala Cabang Tirtanadi Sidempuan/Tabagsel, baik melalui pertemuan resmi maupun komunikasi langsung via telepon.
Menurut Abdul Rahim, persoalan air harus diselesaikan dengan pendekatan sistemik, termasuk kajian teknis sumber air, dukungan anggaran, serta kemungkinan kolaborasi lintas sektor.
3. Lapangan Kerja dan Pemberdayaan
Selain kesehatan dan air bersih, generasi muda Batang Toru menyuarakan kegelisahan terkait minimnya lapangan kerja. Kecamatan ini dikenal memiliki potensi alam melimpah, mulai dari sektor pertambangan emas, perkebunan sawit, hingga karet. Namun potensi tersebut jangan hanya dinikmati pihak tertentu, melainkan mampu menciptakan multiplier effect bagi ekonomi lokal.
Warga meminta pemerintah membuka pelatihan kewirausahaan (entrepreneurship), memberikan akses modal usaha, serta memperkuat sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Mereka menginginkan program nyata yang menyasar pemuda desa, agar tidak lagi harus merantau jauh demi mencari pekerjaan, ujar Abdul Rahim mendorong agar pemerintah kabupaten menghadirkan program pelatihan berbasis potensi lokal.
Abdul Rahim menegaskan ," Saya tidak ingin reses ini berhenti di catatan. Ini akan saya sampaikan langsung kepada Bupati, Dirut PDAM Tirtanadi, dan jajaran terkait. Aspirasi ini adalah amanah,” ujarnya.
Kini, harapan itu berada dalam kawalan wakil rakyat untuk diperjuangkan menjadi kebijakan yang nyata dan berpihak pada rakyat.
(Bahren)











