LBH Toho


Sports

Diduga Ada Keong dalam Menu MBG, Warga Desak BGN Tutup SPPG Sisarahili Bawolato

Investigasi Fakta
Senin, 10 Agustus 2026, 21:29 WIB Last Updated 2026-08-11T03:00:07Z

Keterangan Foto: Screenshot unggahan video akun Facebook M****n T********ua yang memperlihatkan benda yang diduga menyerupai keong dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut dibagikan kepada siswa SMP Negeri 1 Bawolato, Kabupaten Nias, Senin (10/8/2026).
BAWOLATO, KABUPATEN NIAS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nias kembali menjadi sorotan. Kali ini, sebuah video berdurasi sekitar 38 detik yang diunggah melalui akun Facebook M****n T********ua, Senin (10/8/2026), memperlihatkan benda yang disebut menyerupai keong di dalam menu MBG yang diduga dibagikan kepada siswa SMP Negeri 1 Bawolato, Kabupaten Nias.


Dalam unggahan tersebut terdapat keterangan singkat, “he keong SPPG Bawolato”, yang kemudian memicu perhatian dan pertanyaan publik mengenai keamanan serta kualitas makanan yang diberikan kepada penerima manfaat program MBG.


Berdasarkan informasi yang diterima media, makanan tersebut disebut berasal dari SPPG Sisarahili Bawolato, Desa Sisarahili Bawolato, Kecamatan Bawolato, yang dikelola oleh Yayasan Pondok Hilizia Permai.


Munculnya video tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan serius, mulai dari proses penerimaan bahan baku, pencucian dan pengolahan bahan makanan, pemeriksaan kualitas makanan, hingga prosedur pengecekan sebelum makanan didistribusikan kepada siswa.


Untuk memastikan informasi tersebut, awak media melakukan konfirmasi kepada Korwil SPPG Kabupaten Nias, Asni Putri Gulo.


Dalam keterangannya, Korwil SPPG Kabupaten Nias membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai adanya makanan yang dinilai tidak layak dalam distribusi MBG.


Menurut Asni, laporan tersebut disampaikan oleh salah seorang PIC melalui pesan WhatsApp.


“Salah seorang PIC melaporkan melalui chat WA kalau di MBG yang kita distribusikan terdapat makanan tidak layak (ada keong),” jelasnya.


Menanggapi laporan tersebut, pihaknya mengaku langsung mengambil tindakan dengan meminta makanan tersebut diganti.


“Langsung saya jawab chat-nya, segera kami ganti, Pak,” ujarnya.


Ia juga menyampaikan bahwa penggantian makanan telah dilakukan dan dikirim kembali ke sekolah. Bahkan, menurutnya, proses tersebut telah dituangkan dalam berita acara.


“Dan itu sudah langsung kita ganti dengan membuat surat berita acara pergantian MBG. Dan itu sudah sampai di sekolah dan surat berita acaranya sudah ditandatangani,” jelasnya.


Tak berhenti pada penggantian makanan, pihak SPPG menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap proses pengolahan makanan di SPPG Sisarahili Bawolato.


“Akan dilakukan evaluasi pemeriksaan dan pengecekan khusus terkait pengolahan SPPG ini,” kata Korwil SPPG Kabupaten Nias.


Pernyataan tersebut menjadi penting karena persoalan yang muncul bukan hanya menyangkut satu menu makanan, tetapi juga menyentuh aspek pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.


Jika benar benda yang terlihat dalam video merupakan keong dan berasal dari proses pengolahan makanan, maka perlu ditelusuri bagaimana benda tersebut dapat lolos dari tahapan pemeriksaan sebelum makanan sampai ke sekolah.


Beredarnya video dan adanya pengakuan pihak SPPG mengenai laporan makanan tidak layak membuat sejumlah warga meminta Badan Gizi Nasional (BGN) tidak menganggap persoalan tersebut sebagai masalah sepele.


Warga berharap BGN melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap SPPG Sisarahili Bawolato, termasuk menelusuri standar kebersihan dapur, proses pencucian bahan makanan, penyimpanan bahan baku, pengolahan, pengemasan, hingga pemeriksaan akhir sebelum makanan didistribusikan.


Menurut warga, MBG merupakan program yang menyasar anak-anak sekolah sehingga standar keamanan pangan harus menjadi prioritas utama.


“Jangan sampai program yang tujuannya memberikan makanan bergizi kepada anak-anak justru menimbulkan persoalan karena lemahnya pengawasan. Kalau memang ditemukan pelanggaran serius, harus ada tindakan tegas,” harap warga.


Sejumlah warga bahkan meminta BGN mengevaluasi secara menyeluruh keberadaan SPPG Sisarahili Bawolato.


Namun, warga juga menekankan bahwa tindakan paling tegas, termasuk penghentian sementara operasional SPPG, seharusnya dilakukan apabila hasil pemeriksaan resmi menemukan pelanggaran serius terhadap standar keamanan dan kualitas makanan.


Masyarakat menilai evaluasi tidak cukup hanya dilakukan secara administratif. Pemeriksaan harus menyentuh akar persoalan agar kejadian serupa tidak berulang.


“Kalau hasil pemeriksaan memang menemukan pelanggaran serius, jangan hanya diberi teguran. BGN harus berani mengambil tindakan sesuai aturan, termasuk menghentikan sementara operasional sampai standar keamanan pangan benar-benar dipenuhi,” ujar warga.


Kasus ini diharapkan tidak berhenti setelah makanan diganti dan berita acara ditandatangani. Publik membutuhkan kepastian bahwa makanan yang diterima siswa pada distribusi berikutnya benar-benar aman dan layak konsumsi.


Media juga mendorong agar hasil evaluasi dan pemeriksaan khusus yang dijanjikan pihak SPPG dapat disampaikan secara terbuka sehingga masyarakat mengetahui langkah perbaikan yang dilakukan.


Hingga berita ini diterbitkan, keberadaan benda yang disebut sebagai keong dalam video belum diverifikasi secara independen oleh media.


Namun, pihak Korwil SPPG Kabupaten Nias telah mengonfirmasi adanya laporan mengenai makanan tidak layak dan menyatakan bahwa makanan tersebut telah diganti serta akan dilakukan evaluasi dan pemeriksaan khusus.


Media membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Yayasan Pondok Hilizia Permai selaku pengelola SPPG Sisarahili Bawolato, pihak SMP Negeri 1 Bawolato, BGN, serta pihak terkait lainnya.


Publik kini menunggu: apakah evaluasi tersebut hanya menjadi respons sesaat setelah video viral, atau benar-benar berujung pada pembenahan menyeluruh terhadap standar keamanan pangan MBG di SPPG Sisarahili Bawolato.


(Tim)

Komentar

Tampilkan