MEDAN BELAWAN-Kinerja arus peti kemas di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, menunjukkan penguatan pada awal 2026. Hingga Februari, PT Prima Multi Terminal (PMT) mencatat volume mencapai 116.926 TEUs atau meningkat 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan ini mencerminkan mulai pulihnya pergerakan logistik di wilayah barat Indonesia, seiring meningkatnya aktivitas distribusi barang dan stabilnya permintaan domestik.
Kontributor utama pertumbuhan berasal dari Terminal 1 Belawan, khususnya arus domestik yang mencapai 105.911 TEUs atau naik 10 persen secara tahunan. Peningkatan ini didorong oleh tingginya distribusi barang konsumsi dan bahan baku industri, serta bertambahnya frekuensi pelayaran antarpulau.
Adapun Terminal 2 Kuala Tanjung mencatat pertumbuhan paling tinggi pada arus internasional. Volume peti kemas internasional mencapai 3.299 TEUs atau melonjak 52 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini antara lain dipicu oleh penambahan layanan pelayaran dan meningkatnya aktivitas ekspor dari kawasan industri di Sumatera.
Kepada wartawan ini, Selasa 31 Maret 2026, Direktur Utama PT Prima Multi Terminal, Rudi Susanto, menilai tren tersebut mencerminkan membaiknya aktivitas ekonomi di wilayah Sumatera Utara.
“Pergerakan barang menunjukkan tren positif, terutama untuk komoditas ekspor dan distribusi domestik. Ini menjadi indikasi bahwa aktivitas industri dan perdagangan mulai kembali bergairah,” ujarnya.
Dari sisi operasional, peningkatan volume diikuti dengan perbaikan kinerja layanan. Rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan tercatat 86,54 persen hingga Februari 2026. Sementara itu, di Kuala Tanjung, rasio ET/BT internasional mencapai 76,71 persen dan domestik 70,21 persen, seluruhnya menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut Rudi, perbaikan tersebut dilakukan melalui penataan ulang area penumpukan, optimalisasi pergerakan alat bongkar muat, serta penguatan koordinasi operasional.
“Efisiensi waktu layanan menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pengguna jasa, terutama di tengah persaingan layanan pelabuhan dan dinamika logistik global,” katanya.
Lanjutnya, Penguatan kinerja pelabuhan ini berlangsung di tengah upaya pemerintah menekan biaya logistik nasional serta mendorong ekspor berbasis hilirisasi.
Di sisi lain, sektor logistik juga masih menghadapi tantangan, seperti fluktuasi permintaan global dan penyesuaian jaringan pelayaran internasional.
"Selain meningkatkan kinerja operasional, perusahaan juga memperkuat aspek keselamatan kerja melalui program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Langkah ini mencakup standardisasi peralatan, inspeksi fasilitas secara berkala, serta pelatihan pekerja dengan target nihil kecelakaan kerja,"ungkap Rudi.
Rudi menambahkan, peran pelabuhan semakin strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. “Kelancaran arus barang akan berdampak langsung pada efisiensi distribusi dan daya saing industri. Karena itu, pengelolaan pelabuhan harus terus ditingkatkan,” ujarnya.
Dengan posisi geografis yang strategis di jalur perdagangan internasional, kedua pelabuhan tersebut diproyeksikan semakin berperan sebagai pintu gerbang logistik wilayah barat Indonesia..(Ronald/Rls)

.jpg)
